Jumat, 16 Juli 2021

PANDEMI DAN PROVOKASI YANG MEMBAHAYAKAN

Dalam situasi pandemi seperti ini, kita perlu menyeimbangkan dua hajat besar masyarakat: ekonomi & kesehatan. Jangan sampai timpang karena kita sama-sama pernah merasakan bagaimana beratnya kehidupan ketika ekonomi runtuh. Kita juga pernah melihat bagaimana ngerinya saat pasien merintih menahan sakit di selasar IGD karena tidak mendapatkan ruang perawatan karena ruang perawatan sudah penuh oleh pasien lain yg datang lbh dulu. Juga bagaimana paniknya teman-teman kita yang kebingungan mencari tabung oksigen untuk merawat keluarganya.. 

Maka itu pihak medis menawarkan solusi berupa protokol kesehatan/prokes (pakai masker, jaga jarak, jaga kebersihan, termasuk juga jaga pikiran & jaga nutrisi), serta herd immunity (kekebalan kelompok/masyarakat) melalui vaksin..

Sayangnya, sebagian orang bertindak ngawur & sok pintar di luar ketentuan ilmu kedokteran & ilmu kesehatan masyarakat. Mereka mengatakan bahwa kita tidak perlu vaksin & prokes karena menganggap covid sama sekali tidak berbahaya. Mereka dengan enteng mengatakan itu tanpa memberi tahu fakta bahwa tanpa penyakit bawaan pun covid bisa mematikan, mereka juga tidak pernah memberi tahu bahwa 30% WNI punya gangguan diabetes & 30 juta WNI punya masalah hipertensi yg bisa menjadi akut/ganas ketika seseorang terkena covid. Orang seperti ini juga cukup egois karena menganggap dirinya kebal tanpa pernah peduli bahwa dia bisa saja menularkan virus kepada orang lain yg daya tahan tubuhnya lemah. Mereka tak pernah peduli tapi gaya bicaranya selalu bak pahlawan bagi rakyat. Sayangnya ketika rakyat sakit & kebingungan mencari ruang perawatan dan tabung oksigen, mereka tak pernah datang menunjukkan kepedulian membantu warga. Wajar saja, karena mereka sebenarnya tak pernah peduli.. 

Di antara kita pasti tidak ada yang ingin PSBB, PPKM, PKP, Lockdown, dan Karantina (atau apapun namanya itu) berlanjut & berlarut-larut. Bahkan aku yakin pemerintah & dinas kesehatan juga tak ingin ada PSBB, PPKM, PKP, Lockdown, Karantina, dll. Sayangnya kita sudah mencapai kondisi yg seperti ini: "Pasien terlantar karena RS penuh & tabung oksigen langka sehingga pelayanan kesehatan tidak bisa optimal. Pasti getir sekali bagi keluarga pasien ketika melihat orang yg disayangi tergolek rapuh tanpa ada bantuan/pertolongan medis yg layak". 
Karena itu mari disiplinkan diri pribadi untuk taat prokes agar sebaran virus ini tak terjadi secara brutal yg menyebabkan pasien RS membludak tak tertangani. Saat sebaran virus bisa ditekan maka PPKM, PSBB, PKP, Lockdown & Karantina semoga bisa segera diakhiri.. 

Semoga semua selalu sehat & berbahagia..

Kamis, 01 Juli 2021

SILSILAH AKSARA JAWA

AKSARA JAWA 

Banyak orang keturunan Jawa yang tidak tau keberadaan Aksara Jawa, bahkan ada yg menganggapnya sebagai "Aksara Hindu". Padahal aksara Jawa ini lahir di Jawa walaupun Aksara Jawa adalah "keturunan" dari aksara Pallawa. Banyak yg menganggap bahwa Aksara Jawa adalah sama dgn Aksara Thai & Kamboja, padahal berbeda. Saya dapat membaca & menulis Aksara Jawa Baru (Carakan) dan Aksara Jawa Kuno (Kawi) tapi saya sama sekali tidak dapat membaca aksara Thai & Kamboja.. 

SEJARAH 
1. Aksara Jawa Kuno (Kawi) 
 
Akasara Jawa muncul dimulai dari Aksara Jawa Kuno (Kawi) yang mana ia adalah penyesuaian & perubahan dari Aksara Pallawa (India), boleh dikata Aksara Jawa Kuno (Kawi) adalah "anak" dari Aksara Pallawa. Ada perubahan bentuk yg cukup signifikan sehingga dalam unicode pun dikenali sebagai aksara yg berbeda. Aksara Jawa Kuno (Kawi) ini menyebar ke penjuru Nusantara dan diadaptasi menjadi aksara-aksara lain seperti Aksara Lontara, Aksara Lampung, Aksara Sunda, Aksara Bali, dan (tentu saja) Aksara Jawa Baru, dll. Semua itu adalah "anak" dari Aksara Jawa Kuno (Kawi). Aksara Kawi ini digunakan di era Kerajaan Medang (Mataram Kuno), Majapahit, dll.. 

2. Aksara Jawa Baru (Carakan) 
 
Aksara Carakan ini anak dari Aksara Kawi, muncul di era akhir Majapahit atau awal masa Demak. Digunakan di Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram Islam, Yogyakarta, Surakarta, dan Republik Indonesia (masyarakat Jawa di Indonesia). Bahkan pada masa penjajahan Belanda, Aksara Carakan juga digunakan secara resmi oleh pemerintah penjajahan Belanda untuk menulis Bahasa Sunda, Bahasa Melayu, Bahasa Jawa, Bahasa Madura, dll untuk membuat pengumuman kepada warga masyarakat. Aksara Jawa Baru ini juga "dipinjam" oleh Suku Sunda dan Suku Madura untuk menuliskan bahasa mereka di masa lalu bahkan sampai era/masa modern.. 

Lalu apakah Aksara Jawa dan Aksara Pallawa adalah Aksara Hindu? 
Pertanyaan tersebut sama sekali tidak tepat. Kalau Aksara Pallawa disebut Aksara Hindu, maka Aksara Latin/Rumi akan disebut sebagai aksara Kristen? Atau Aksara Arab disebut sebagai Aksara Islam? Tentu saja bukan seperti itu, aksara adalah "gambar yang dapat dibunyikan/disuarakan" yang berfungsi sebagai alat komunikasi oleh suatu peradaban masyarakat. Dan dalam suatu peradaban tidak selalu mewakili suatu agama. Sebagai contoh: Malaysia & Indonesia mayoritas adalah muslim, tetapi dalam tata tulis mengamalkan Aksara Latin/Rumi. Bangladesh mayoritas Muslim, tapi juga mengamalkan Aksara Dewanagari dalam sistem tata tulis mereka.. 

#AksaraJawa #Carakan #Kawi

Sabtu, 12 Juni 2021

Mengenal Aksara Jawa Baru (Kaganga) Sebelum Penyederhanaan Menjadi Carakan (Hanacaraka)

Kita pada umumnya mengenal Aksara Jawa Baru hanya sebagai Carakan yang terdiri dari 20 aksara nglegena yaitu: 
Ha Na Ca Ra Ka 
Da Ta Sa Wa La 
Pa Dha Ja Ya ร‘a (ร‘a dibaca Nya). 
Ma Ga Ba Tha แน„a (แน„a dibaca Nga). 

 


Tetapi sebelum itu Aksara Jawa Baru ternyata lebih komplit seperti halnya Aksara Jawa Kuno (Kawi) dan Pallawa yang disusun oleh Resi Panini. 

Berikut saya sertakan tabel karya dari pegiat Aksara Jawa Heri Purwanto yang telah menyusun tabel aksara berdasarkan warga swara seperti yang diklasifikasikan oleh Resi Panini: 


Semoga bermanfaat. 

Rahayu.. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Senin, 19 April 2021

Inkonsistensi Aksara Pasangan Carakan

Aksara (idealnya) memiliki standarisasi meski beda paugeran karena masing-masing aksara adalah lambang bunyi dari sebuah bahasa. Misalnya aksara latin: huruf kapitalnya f ya F, huruf kecilnya ya f. Apapun paugerannya akan konsisten seperti itu, baik itu dari Van Ophuijsen, Soewandi, EYD, sampai PUEBI ya begitu. Bahkan pada ejaan bahasa Inggris, bahasa Perancis, Italia, Jerman, dll juga begitu. Tapi sayangnya aksara jawa/carakan gagal memiliki konsistensi semacam itu sehingga beda paugeran akan bisa beda huruf. Bahkan huruf yg sama, pasangannya bisa berbeda jika berganti paugeran. Ini terjadi pada aksara pasangan Sa dalam tata tulis Tradisional (Trad) dan Simplified. 

#AksaraJawa #Carakan 



Aksara Jawa Ejaan Sansekerta (2)


Sedalam pengetahuan saya yg dangkal, paugeran itu kalau dinarasikan dlm kehidupan sastra modern itu semacam sistem ejaan. Paugeran mrpk sebuah produk sastra semasa & selingkung dari pihak yg mengeluarkan/menggunakan paugeran tsb. Misalnya bahasa melayu, di Indonesia & malaysia memilki kaidah yg berbeda. Lalu mana yg salah & benar? Ya tidak ada yg salah atau benar karena itu kaidah selingkung negara masing-masing. 
Nah.. paugeran SW itu kan produk mataram, tidak ada benar/salah karena itu adlh kesepakatan dr sastrawan selingkung mataram dlm membuat tata tulis yg mereka gunakan dlm kegiatan sastra mereka. Sama juga dgn KBJ, itu adalah produk kesepakatan sastrawan jawa masa itu dlm menuliskan karya² dari para sastrawan ini.. 

Kemudian dewasa ini kita menemukan pembenturan² antar paugeran, salah satunya adalah dgn rumus warga swara dari bahasa sanskerta/sanskrit..

Nah.. pertanyaan saya kemudian adlh: 
1. Dari manakah rumus warga aksara bahasa sanskrit itu dibakukan? Terdapat dlm naskah apa? 
2. Mulai kapan & sampai kapan rumus tersebut dipakai untuk bahasa & aksara jawa? 
3. Bagaimana sifat rumus bahasa sanskrit tersebut terhadap bahasa & aksara jawa? Apakah berlaku mutlak, ada perkecualian, atau berlaku kasuistik/khusus? 

Aksara Jawa Ejaan Sansekerta?

Menulis Jawa dengan aturan Sanskrit itu tak ubahnya menulis Bahasa Indonesia dengan ejaan kolonial. Dulu saat menulis Bahasa Indonesia kita pernah pakai Ejaan Van Ophuijsen, tetapi akhirnya kita sesuaikan melalui Ejaan Suwandi, EYD, hingga akhirnya kini kita ada PUEBI.. 

Dalam proses evolusi & adaptasi tulisan serta tata tulis dan ejaan Aksara Jawa, Aksara kawi adalah saksi dimana proses itu berjalan. Yang mana pada awalnya masih kental akan kaidah dan makhraj Sansekerta dan menjalani proses ke Jawa pertengahan hingga Jawa baru mengalami perubahan dari murdhanya menjadi dantya mahaprana. Dari kanthya mahaprana menjadi kanthya alpaprana..
Proses penyesuaian itu mutlak berjalan dan suatu keniscayaan pada asimilasi bahasa. Di awal-awal memang masih kental dg bunyi asal. Seiring berjalan waktu ada beberapa bunyi yang menyesuaikan lidah penyerap bahasa.. 

(Disarikan dari hasil diskusi dgn para winasis).

Sabtu, 17 April 2021

Masjid/ู…ุณุฌุฏ dalam Aksara Jawa



Sempat ramai bagaimana menuliskan "Masjid" dalam Aksara Jawa Baru (Carakan), setidaknya ada dua pendapat yaitu:
A. Pendapat yang menyatakan bahwa masjid ditulis dengan menggunakan aksara Sa dantya (berkode "a" pada gambar) dengan alasan bahwa bunyi masjid/ู…ุณุฌุฏ itu huruf Sa-nya adalah Sin/ุณ yang mana Sin/ุณ ini setara dengan Sa Dantya (๊ฆฑ). 
B. Pendapat yang menyatakan bahwa Masjid ditulis dengan aksara Carakan Sa Talawya (palatal) dengan alasan bahwa rumus warga aksara dalam Bahasa Sanskerta menyatakan jika bunyi Sa sigeg/mati jika bertemu aksara Ja maka itu adalah aksara Sa Talawya (๊ฆฏ). 

Perdebatan seperti ini sebenarnya menarik dan menambah wawasan/khazanah keaksaraan bagi kita, masing-masing pihak memiliki dasar argumen yang memperkuat pendapat mereka. Di sini kita akan mencoba memahami argumen yang ditawarkan dari keduanya.. 

Pendapat A menitikberatkan kepada cara menuliskan aksara Jawa yang menghasilkan bunyi yang semirip mungkin dengan suara/bunyi yang terdapat pada bahasa jawa dan bahkan bahasa asalnya (bahasa arab). Jadi ketika tertulis ๊ฆฉ๊ฆฑ꧀๊ฆ—ꦶ๊ฆข꧀ maka ketika dibaca akan terdengar mirip dengan ู…ุณุฌุฏ/masjid dalam bahasa jawa maupun arab.. 

Pendapat B menitikberatkan kepada cara penulisan aksara Jawa agar konsisten dengan kaidah penulisan Bahasa Sanskerta yang mana rumusnya adalah jika aksara Sa sigeg/mati bertemu aksara Ja maka aksara Sa tersebut adalah aksara Sa Talawya. Secara kaidah/rumus Bahasa Sanskerta maka rumus ini bisa dipakai, tetapi dalam proses transliterasi maka bunyi yang dihasilkan ๊ฆฉ๊ฆฏ꧀๊ฆ—ꦶ๊ฆข꧀ adalah maสƒjid/maล›jid (ู…ุดุฌุฏ), sudah berbeda bunyi dan (mungkin juga) berbeda makna dari kata yang dimaksudkan. Selain itu pendapat B ini justru membenturkan kaidah penulisan dalam upaya transliterasi [masjid adalah kata Bahasa Jawa (bukan Sanskerta) dan hasil serapan dari Bahasa Arab, bukan Sanskerta]. Yang perlu diketahui juga bahwa rumus Sa mati + Ja = Sa Talawya + pasangan Ja ini ternyata juga tidak dipakai dalam menuliskan Masjid di dalam Bahasa India yang merupakan anak Bahasa Sanskerta, Orang/Bahasa India menuliskan masjid dengan tulisan เคฎเคธ्เคœिเคฆ yang memakai Sa Dantya, bukan Sa Talawya. Artinya rumus warga aksara tidak bisa berlaku mutlak, terutama jika menuliskan kata yang berasal dari bahasa asing (non-sanskerta) karena bunyi yang dihasilkan akan menjadi berbeda dengan bunyi dan makna yang dimaksudkan.. 
Selain itu, Bahasa Jawa dan Aksara Jawa bukanlah Bahasa Sanskerta yang harus mengikuti kaidah Sanskerta secara penuh. Dalam Sanskerta tidak terdapat E pรชpรชt tetapi dalam Aksara Jawa terdapat E pรชpรชt, maka jika dipaksakan harus kembali sesuai dengan kaidah Sanskerta maka kita bisa kehilangan E pรชpรชt yang telah kita miliki.. 

Lalu, manakah yang paling benar? 
Sampai saat ini saya belum berani menyimpulkan pendapat mana yang paling benar (takut dihujat "mendem kamus" dan/atau "mendem rumus"), tetapi sebagai orang desa yang dianggap kurang kompeten oleh para winasis yg ndangak di sana saya memiliki tips aman untuk menulis masjid dalam bahasa Jawa: saya menulisnya sebagai Mejid (๊ฆฉꦼ๊ฆ—ꦶ๊ฆข꧀) saja.. ๐Ÿคญ๐Ÿ˜✌️

Minggu, 17 November 2019

Tindakan Sosial (Weber)

"Selalu semangat pagi!!" Weber Menyapa SMA SIKK..

Tindakan sosial manusia ada empat tipe yaitu:

1. Tindakan Rasionalitas Instrumental (Zwerk Rational)
Tindakan ini merupakan suatu tindakan sosial yang dilakukan seseorang didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Contohnya : Seorang siswa yang sering terlambat dikarenakan tidak memiliki alat transportasi, akhirnya ia membeli sepeda motor agar ia datang kesekolah lebih awal dan tidak terlambat. Tindakan ini telah dipertimbangkan dengan matang agar ia mencapai tujuan tertentu. Dengan perkataan lain menilai  dan  menentukan  tujuan  itu dan bisa saja  tindakan  itu dijadikan sebagai cara untuk mencapai  tujuan  lain.

2. Tindakan Rasional Nilai (Werk Rational)
Sedangkan tindakan rasional nilai memiliki sifat bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada di dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut. Contoh : perilaku beribadah atau seseorang mendahulukan orang yang lebih tua ketika antri sembako. Artinya, tindakan sosial ini telah dipertimbangkan terlebih dahulu karena mendahulukan nilai-nilai sosial maupun nilai agama yang ia miliki.

3. Tindakan Afektif/Tindakan yang dipengaruhi emosi  (Affectual Action)
Tipe tindakan sosial ini lebih didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar. Tindakan afektif sifatnya spontan, tidak rasional, dan merupakan ekspresi emosional dari individu. Contohnya: hubungan kasih sayang antara dua remaja yang sedang jatuh cinta atau sedang dimabuk asmara.

4. Tindakan  tradisional/Tindakan karena kebiasaan (Traditional Action)
Dalam tindakan jenis ini, seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan. Tindakan pulang kampong disaat lebaran atau Idul Fitri.

#Weber #SocialActions #TindakanSosial

Kamis, 07 November 2019

SOSIALISASI


Pengertian Sosialisasi
  • Sosialisasi adalah proses yang menjelaskan melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
  • Sosialisasi merupakan suatu proses pembelajaran yang dialami oleh individu maupun kelompok masyarakat yang dapat mengarahkan kepada suatu kebudayaan di dalamnya.
  •  Proses sosialisasi berlangsung sepanjang hayat manusia.
  • Proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.
  •  Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory) karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Tahap Sosialisasi menurut Mead:
1.    Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal lingkungan sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contohnya kata “mamah” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan “mah”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lamakelamaan anak memahami secara tepat makna kata mamah tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
2.    Tahap Meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan secara bertahap anak semakin sempurna dalam menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Dalam diri anak mulai terbentuk kesadaran tentang nama sendiri dan nama orang tuanya, kakaknya, dan teman di lingkungan sekitarnya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain yang biasa disebut empati juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other) bagi kehidupan dirinya.
3.    Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Proses peniruan yang dilakukan pada tahap kedua sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama dan melakukan proses sosialisasi. Anak mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Anak sudah mampu memahami peraturan-peraturan yang dibuat untuk mencapai keteraturan sistem dalam interaksi dengan teman sebaya melalui permainan. Pada tahap ini, lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya dan perlu ia patuhi agar keberadaannya diakui oleh lingkungannya.
4.    Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Ia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat luas. Ia mulai menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. Pada tahap ini, seseorang sudah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya serta sudah memahami tata aturan dan normanorma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Charles H. Cooley

Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
a.      Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.'
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
b.      Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.'
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
c.       Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.
Bentuk Sosialisasi (Primer dan Sekunder):
1.   Sosialisasi primer
merupakan jenis atau proses sosialisasi yang paling awal akan dialami oleh setiap individu sebelum masuk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan karena sosialisasi primer terjadi di dalam lingkungan keluarga di mana proses interaksi yang berlangsung dilakukan oleh agen-agen atau para anggota sosialisasi keluarga. Melalui lingkungan keluarga setiap individu akan bersosialisasi dengan individu yang lainnya, sosialisasi ini dapat dimulai melalui adanya sikap saling menghormati, jujur, toleransi, tolong-menolong, hingga adanya rasa kasih sayang. Dalam sosialisasi primer, setiap individu sedang dalam masa atau tahapan sosialisasi yang disebut sebagai preparatory stage atau juga bisa disebut sebagai tahap persiapan. 
Contoh Sosialisasi Primer:
a.      Interaksi antar anggota keluarga
Didalam lingkungan keluarga pasti terjadi interaksi-interaksi sosial pertama yang dialami oleh setiap individu, walaupun setiap individu baru lahir dan belum bisa berbicara tetapi ketika orang tua mencoba berbicara dengan anaknya yang baru lahir maka sudah termasuk kedalam interaksi sosial. Bukan hanya orang tua saja, tetapi setiap anggota keluarga yang mencoba berbicara dengan anak yang baru lahir sekalipun sudah menandakan terjadinya sosialisasi primer.
b.      Orang tua mengajari berbicara dan bersikap
Ketika orang tua mengajarkan anaknya untuk mulai berbicara juga termasuk kedalam contoh sosialisasi primer. Selain itu segala sikap dan perilaku orang tua biasanya sedikit banyak juga akan di contoh oleh anak, sehingga kepribadian dan pola perilaku individu akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kebiasaan dalam keluarga.
c.       Orang tua mendidik anaknya
Sudah menjadi kewajiban setiap orang tua untuk dapat mendidik anaknya dengan baik, sehingga orang tua memiliki peran penting dalam penanaman nilai-nilai kehidupan dalam keluarga. Oleh sebab itulah, kepribadian setiap individu sangat bergantung kepada latar belakang keluarga masing-masing.

2.    Sosialisasi sekunder
sosialisasi sekunder merupakan suatu proses kelanjutan dari berlangsungnya sosialisasi primer. Sosialisasi sekunder merupakan proses sosialisasi yang berlangsung di luar lingkungan keluarga, dapat berlangsung pada lingkungan sekolah, lingkungan sepermainan, maupun lingkungan masyarakat secara luas. Dalam proses sosialisasi ini, setiap individu akan mulai belajar lebih banyak aspek-aspek kehidupan serta peran-peran sosial yang ada dalam masyarakat. Selain itu, setiap individu juga diharapkan dapat mengerti peran diri sendiri dan juga peran setiap individu di sekitarnya. Tidak hanya sosialisasi primer yang berpengaruh pada kepribadian individu, tetapi sosialisasi sekunder juga dapat mempengaruhi kepribadian setiap individu. Di mana setiap individu dapat menerima maupun menolak proses sosialisasi yang dialaminya sesuai dengan bagaimana kepribadian dasar yang dimiliki nya. Terdapat beberapa tahapan sosialisasi sekunder, seperti play stage, game stage, dan juga generalized stage.
Contoh Sosialisasi Sekunder;
a.      Sosialisasi dengan teman sepermainan
Di dalam sosialisasi ini, setiap individu akan melakukan interaksi dengan teman-teman sebaya didalam satu lingkungan. Selain itu, melalui sosialisasi dalam lingkungan sepermainan, setiap individu dapat memulai mempelajari berbagai macam aturan dalam sebuah kelompok.
Setiap individu juga dapat mempelajari nilai-nilai keadilan, walaupun masih cenderung bersifat egosentri dan masih belum bisa memberikan penilaian terhadap pendirian orang lain. Melalui sosialisasi dengan teman sepermainan pula, baik buruknya tindakan atau perbuatan yang dilakukan setiap individu biasanya juga akan terpengaruh oleh teman. Oleh sebab itulah, setiap individu haru pandai dalam memiliki seorang teman, terutama saat dewasa.
b.      Sosialisasi dengan lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah merupakan contoh kecil dari lingkungan masyarakat, dimana didalam lingkungan sekolah setiap individu dapat bertemu dengan berbagai macam individu lainnya dengan latar belakang yang berbeda-beda. Melalui sosialisasi dengan lingkungan sekolah, seorang individu dapat belajar untuk mematuhi aturan-aturan yang berlaku, serta juga dapat mendapatkan berbagai macam pengetahuan mengenai aspek-aspek kehidupan. Kepribadian individu juga dapat dipengaruhi oleh adanya sosialisasi dengan lingkungan sekolah.

Agen Sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan lembaga pendidikan sekolah.
Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, meminum minman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa.
Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.
a.        Keluarga (kinship)
Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada di luar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaeger peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri.
b.        Teman pergaulan
Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.
Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.
c.         Lembaga pendidikan formal (sekolah)
Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.
d.        Media massa
Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.
Contoh:
  • Penayangan acara SmackDown! di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.
  • Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
  • Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun media cetak atau tv, didahului dengan gelombang game eletronik dan segmen-segmen tertentu dari media TV (horor, kekerasan, ketaklogisan, dan seterusnya) diyakini telah mengakibatkan kecanduan massal, penurunan kecerdasan, menghilangnya perhatian/kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya.
e.         Agen-agen lain
Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar.

Kamis, 15 Agustus 2019

Efek Sosial dan Ekologi dari Mahalnya Biaya Kesehatan

Mahalnya biaya kesehatan salah satunya dipengaruhi oleh biaya kuliah kedokteran yang mahal..

Untuk biaya administrasi kuliah saja sudah ratusan juta, belum lagi buat praktikum, beli buku, biaya hidup, dll. Efeknya adalah:
1. Dari mahalnya biaya kuliah tadi, setelah lulus maka (salah satu) yang dipikirkan adalah mengembalikan biaya kuliah yang telah dikeluarkan.. 
2. Biaya kuliah yang mahal membuat orang dari keluarga biasa (apalagi miskin) akan sulit masuk jurusan kedokteran, akibatnya adalah jumlah dokter terbatas sehingga mereka punya nilai tawar yg tinggi untuk gaji. Di sini berlaku hukum ekonomi Supplay and Demand. "Lo mau sembuh? Bayar! Mau cari yg lain? Silakan kalau ada yang lebih murah!!"

Efek mahalnya biaya kesehatan, secara sosial salah satunya adalah maraknya pengobatan alternatif dan klenik. Bahkan bisa mempengaruhi ekologi, misalnya saja temuan kayu Pohon Bajakah (juga disebut Pohon Bingke) di Kalimantan yang diklaim mampu memyembuhkan kanker. Saat ini orang sedang ramai melakukan pembabatan Kayu Bajakah tersebut di hutan untuk dijadikan komoditas perdagangan meskipun hasil penelitian mengenai cara pemanfaatannya secara resmi belum ada.. 

Miris ya? #bajakah #bingke



Senin, 01 April 2019

REDENOMINASI

REDENOMINASI

Wacana redenominasi yg sudah ada sejak 2010 ternyata belum terwujud sampai hari ini (2019), salah satu alasannya adalah kekhawatiran akan gagal pahamnya masyarakat saat uang baru tersebut diluncurkan. Sebenarnya itu bisa dilaksanakan dgn pemberian kode baru di rupiah baru, misalnya untuk "1 Rupiah Baru" kita pakai kode "IDR 1" yang penyebutannya di keping/lembaran rupiah baru tersebut tertera tulisan "Satu Rupiah Indonesia". 

Ini sekadar ide dari saya, kalau ternyata bertentangan dgn aturan/undang-undang ya abaikan saja. Toh yg lebih utama adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar terlihat keren karena nilai tukarnya TERLIHAT jadi lebih tinggi.. 

#Redenominasi

Sabtu, 09 Maret 2019

POLITIK NEGARA

NEGARA

Kewajiban negara terhadap warganya adalah memberikan fasilitas untuk berekonomi, bersosial & mengembangkan diri. Masyarakat diperkenankan  untuk berkompetisi dalam perekonomian, tentu saja kompetisi yang sehat. Jadi fasilitas yang dimaksudkan itu meliputi sarana-prasarana dan tentu saja regulasi juga. 

Kewajiban lain dari negara terhadap warganya adalah melindungi orang-orang yang tersisih dari kompetisi agar tidak kehilangan segalanya. Jadi, negara juga mengambil peran/fungsi "asuransi" agar kebutuhan hidup dasar warga negara terpenuhi. Contohnya adalah subsidi/bantuan sosial pada rakyat miskin & masyarakat non-produktif (anak-anak, pasien/sakit, pengangguran & pensiunan/warga usia emas) agar tetap bisa "mandiri" tanpa hutang hanya demi memenuhi kebutuhan dasar dalam hidup. 

Nilai-nilai ini yang aku pegang/gunakan, dan seharusnya kita semua gunakan. Bukan fanatisme pada sosok individu yang berujung pada pengkultusan yg membabi-buta. 

Lalu, [si]apa "negara" itu? Negara yang saya maksud di sini adalah sistem manajemen pengelolaannya. Dia bisa saja eksekutif, legislatif & yudikatif, tergantung bidang yang disoroti. 


#Negara #Politik

Jumat, 14 September 2018

DIALEK/LOGAT PATI

Beberapa Kata/Istilah dalam DIALEK PATI

Jรฅwรฅ Biasa/Bรฅsรฅ Indo -》 Logat Pati
  1. Aku = Au
  2. Iku = Iu
  3. Jare = Hare 
  4. Wae = Ae
  5. Kok = Tek/Hare/E 
  6. Thok = Bloko 
  7. Atau/Utรฅwรฅ = Tah
  8. Keranda = Gendosรฅ
  9. Ngono iku = Ngeniu 
  10. Ngene iki = Ngeniki 
  11. Mlebu omah = Bomah 
  12. Plonga-plongo = Ngaplo 
  13. Ragu-ragu = Undak-unduk 
  14. Pelan-pelan = Nyimik-nyimik 
  15. Stress = Nggembuleng 
  16. Kemayu = Kemenyek/Menjeng 
  17. Weteng = Gembung
  18. Belagu = Hordug 
  19. Gerobak dorong = Songkro 
  20. Kereta sapi = Setrek 
  21. Kereta kuda = Grobak jaran 
  22. Ungkat-ungkit (mainan anak²) = Jontitan
  23. Merayu = Solu/nyolu 
  24. Alangkah/betapa = Ndahepo 
  25. Cari/golek = Luru 
  26. Cubit/njiwit pipi = Cuwot/Cuwowo, Nyuwot/Nyuwowo 
  27. Doyan = Kolu 
  28. Kathok = Suwal 
  29. Kamar = Sentong 
  30. Pancal = Dupak/Dugang 
  31. Kemaki = Kemplinthi 
  32. Nggragas = Ogros (bisa berarti tindakan ngawur/emosional). 
  33. Bukan main = Ora gemen-gemen 
  34. Ora = Ogak/Odak 
  35. Kan = Dak 
  36. Apel/PDKT = Engkek 
  37. Konyol = Klowor 
  38. Sirup = Setrup 
  39. Tenda Pesta = Tratak/Deklit 
  40. Kotor = Rusoh/Gluteh  
  41. Nang (panggilan bocah lelaki) = Wik 
  42. Nduk (panggilan bocah perempuan) = Nok/Wuk
  43. Mbak = Genduk 
  44. Durung = Hurung 
  45. Arep/ameh = Ape 
  46. Ngopo = Lahpo/Lapo 
  47. Gori = Tewel 
  48. Melu = Melok 
  49. Memanen padi = Ngedos
  50. Menerjang banjir = Ngrubyuk 
  51. Ngobrol = Ngotar 
  52. Omong = Padon/Umuk/Guneman  
  53. Omong Besar = Mlepuk
  54. Omel (mengomel) = Ompyang
  55. Membatin/merasa prihatin = Ngredatin 
  56. Penjual sayur keliling = Tereng 
  57. Dipasangkan = Dipacuknรฅ
  58. Kebanyakan Gaya = Anggak 
  59. Lungguh/Duduk = Linggeh 
  60. Mantap/Spektakuler = Njedag 
  61. Ringkih/Lemah/Rapuh = Kreye 
  62. Teman Karib = Bรฅlรฅ Plek 
  63. Ngguyu Ngakak = Mbekakak 
  64. Ngasal/Ngawur/Diawur = Ngabrak/Diabrak 
  65. Ngerti/Mudeng = Ndenger 
  66. Gpp/Rapopo = Gak ndandeh/Ra dadeh 
  67. Mengganggu/Diganggu = Ngaru-aru/Diaru-aru 
  68. Sapa/Disapa = Karoh/Dikaroh 
  69. Pelacur = Begenggek/Gembrik 
  70. Bongsor = Longgor 
  71. Misuh/Dipisuhi = Nosot/Disosotnรฅ 
  72. Badan Besar Tapi Kurang Nalar = Gendowor 
  73. Memperhatikan/Peduli = Nggatekno/Nggatek
  74. Tidak Peduli = Ra Nggatek 
  75. Bakwan = Heci/Piya-piya 
  76. Haus = Ngorong 
  77. Krungu = Ndungu 
  78. Weruh = Eroh
  79. Ranjang = Amben 
  80. Kaos Dalam = Sporot
  81. Gang Kecil Dekat Rumah (misal: Agus) = Seketeng Omahe Agus 
  82. Wisuh = Ijuk 
  83. Mau (Jawa)/Tadi (Indo) = Maeng 
  84. Makan di Rumah Orang = Njantok 
  85. Meraba-raba (sexual activity) = Ngrempon 
  86. Senggama = Ngentem 
  87. Bejad = Mrosal/Morsal 
  88. Bulu di Anus = Guplak/Ipret
  89. Sandal = Srandal 
  90. Mulih/Bali = Muleh/Balek 
  91. Kacamata = Tesmak 
  92. Topi = Toplek 
  93. Dinding Pembatas Kamar = Skesel
  94. Ngisor Amben = Longan
  95. Kaos kaki = Guwek
  96. Kali cilik = Wangan (luweh gede seko kalen).
  97. Terserah = Sekarep/Sembarang 
  98. Terbang/Mabur = Miber 
  99. Banget = Pol/Sakpore 
  100. Kebangetan = Nemeneni/Kemaleken 
  101. Ora Umum/Luar Biasa = Dak Pakat/Ra Jamak
  102. Enak = Inuk
  103. Legi Banget = Legem 
  104. Gedhe Banget = Gedhem 
  105. Mburi = Ngguri 
  106. Kursi = Lincak 
  107. Poskamling/Rondan = Angkruk 
  108. Hasil yg Sepadan = Sumbut 
  109. Jeroan Ikan = Kinco/Waleran 
  110. Tanpa = Sonder 
  111. Setengah Mateng (buah) = Kemampo 
  112. Setengah Mateng (masakan yg gagal) = Mogol 
  113. Lantai = Jogan 
  114. Batas = Turus 
  115. Jamban = Jumbleng 
  116. Joran/Walesan Pancing = Sambitan 
  117. Mata Kail = Cekruk 
  118. Tali Senar = Kenur
  119. Minyak Tanah = Liun 
  120. Buwoh/Nyumbang Hajatan = Ngalong 
  121. Gentong Kecil = Jun 
  122. Centong Sayur = Irus 
  123. Gayung Air = Siwur 
  124. Tampah Besar = Tambir 
  125. Dapurmu! = Bentuk'em! 
  126. Sebagian = Salok'e 
  127. Kenapa = Geno (dari kata gene/geneo) 
  128. Gumun = Eram 
  129. Hambar = Ampang/Sepo 
  130. Sinau = Genaon 
  131. Over Taste (masakan)/Over Loud & Tone (suara) = Cemplang 
  132. Isih = Ijeh 
  133. Ngasal/Ngawur = Angger (Misal: Asal Pukul = Angger Njotos). 
  134. Mantap/Puas = Marem 
  135. Hanya/Mung = Mek 
  136. Ambil/Njupuk = Njikuk/Amek
  137. Akeh/Banyak = Mberah/Umbruk-umbruk 
  138. Dalan = Ratan 
  139. Menehi/Memberi = Kek'i 
  140. Cedak = Cerak 



NB: 
1. Mohon maaf jika ada kata kasar karena ini slang/bahasa pergaulan sehari-hari.. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™
2. Beberapa kata/istilah cukup populer di satu wilayah di Pati tapi tidak begitu dikenal di wilayah lain di Pati karena Pati memiliki wilayah yg luas..
3. Beberapa kata/istilah memiliki persamaan dengan daerah lain di luar Pati..
4. Beberapa kata nyaris tidak pernah terdengar lagi karena digantikan kata lain hasil serapan bahasa jawa biasa & bahasa Indonesia..
5. Silakan dikoreksi dan dilengkapi.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

#Pati #LogatPati #DialekPati

Minggu, 08 Juli 2018

Ternyata, Dituduh Bid'ah itu Nikmat!!

Ternyata, dituduh bid'ah itu nikmat.. ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿค”๐Ÿค”

Mudik lebaran, katanya bid'ah. Ketemu sama keluarga & ketemu teman-teman masa kecil, saling tegur sapa menjalin silaturahmi sesuai anjuran Kanjeng Nabi itu nikmat.. ๐Ÿ™‹๐Ÿป‍♂️๐Ÿ™‹๐Ÿป‍♂️๐Ÿ™‹๐Ÿป‍♂️

Ziarah kubur, katanya bid'ah. Mendoakan orang-orang tua & keluarga yg telah mendahului kita, menunjukkan bhakti & penghormatan pada mereka sesuai petunjuk Kanjeng Nabi itu nikmat.. ๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’

Sungkeman, katanya bid'ah. Memohon maaf & doa sambil berlutut mencium tangan ayah-ibu sesuai apa yg agama kita telah wajibkan bagi kita untuk menyayangi, menghormati & menjaga hati kedua orang tua kita itu nikmat.. ๐Ÿ™‡๐Ÿป‍♂️๐Ÿ™‡๐Ÿป‍♂️๐Ÿ™ 

Ternyata, dituduh bid'ah itu nikmat. Lalu, nikmat mana lagi yg kamu dustakan? ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š 

#IndonesiaBertauhid #IndonesiaMilikAllah #Sunnah #Hijrah #DakwahTauhid ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

Kamis, 21 Juni 2018

ALERGI REUNI?

Sejahat itukah REUNI ataukah kita yg "bermental miskin dengan gengsi tinggi"? ๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”

Sebagai alumni dari beberapa almamater, tentu aku memiliki pengalaman mendatangi acara reuni. Mulai dari reuni sekolah sampai reuni kuliah, banyak yang aku datangi. Kebetulan, banyak juga di antara reuni-reuni itu yang aku datangi saat dulu aku masih berstatus sebagai pekerja serabutan, lebih tepatnya adalah pengangguran yang tersamarkan oleh diksi kata.. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ 

Dalam reuni, hampir pasti ada pertanyaan-pertanyaan seperti "Sekarang kerja di mana?", "Anak sudah berapa?", "Tinggal di mana?", itu semua adalah pertanyaan template. Mau reuni di mana pun, hampir pasti selalu muncul pertanyaan-pertanyaan itu. Biasa saja kan perasaanmu saat dapat pertanyaan ini? Kecuali kalau kamu pengangguran yang masih tinggal nebeng ortu & belum punya modal buat kawin sehingga gak mungkin bisa jawab semua pertanyaan itu dengan mudah.. ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Nah! Bayangin, aku saat itu dalam kondisi itu. Banyak orang yang pasti mlipir kalau dapat undangan reuni saat kondisinya begitu ya? Tapi, saat itu aku menolak untuk terintimidasi oleh status sosial, aku menolak untuk terintimidasi oleh uang di dalam dompet & rekening teman-temanku. Buat apa aku musti terintimidasi/minder? Toh jangankan jumlah uang di dalam rekeningnya, nomor rekeningnya & bank yang dipakainya saja aku gak tau!! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Lalu, jika mulai ada yang cerita kisah suksesnya. Cerita tentang perjalanan hidupnya dari nol, atau pun cerita sukses dari modal hibah ortu, ya malah bagus! Ada pelajaran & motivasi yang bisa kita ambil.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š 

Mungkin ada juga yang agak songong membanggakan diri sambil merendahkan yang lain, kamu takut sama yang begitu? Yaelah.. gak usah waktu reuni, di kehidupan sehari-hari juga ada yang gitu. Tapi untungnya gak banyak yang begitu.. ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰ 

Eh, pasti penasaran kan sama jawabanku saat pertanyaan template itu datang sewaktu aku masih pengangguran dulu? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ 
Aku jawab jujur saja tanpa perlu mendramatisir & merasa terbebani dg kehidupan yg aku jalani..
•Ditanya "Sekarang kerja di mana?", aku jawab "masih begini aja, serabutan. Kadang kerja, kadang nganggur. Dinikmati aja dulu waktu luangnya". 
•Ditanya "Anak sudah berapa?", aku jawab sambil bercanda "Gimana mau punya anak? Mau nipu cewek biar mau kawin sama pengangguran aja gagal terus. Haha.." 
•Ditanya "Tinggal di mana?", aku kasih alamatku tinggal yang masih nebeng ortu.. 

Apa aku gak malu datang & jawab pertanyaan seperti itu? Awalnya sih sempet mikir bakal malu, tapi buat apa juga? Datang ke reuni itu niatnya buat silaturahmi kangen-kangenan sama temen-temen, bukan pamer kesuksesan diri lalu merendahkan kegagalan orang lain. Dan pada kenyataannya justru mereka teman-temanku tidak mempermasalahkan itu, rata-rata komentar mereka "Udah.. santai aja, nanti juga bakalan datang sendiri masa jayamu. Aku dulu juga gitu, bahkan lebih parah. Bla, bla, bla.." justru sekarang muncul sudah sifat sombong mereka yang begitu bangga memamerkan penderitaan masa lalunya. Haha.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ 

Ada juga yang nyamber sok tau "kamu dulu lulusan ini kan, di tempat istriku lagi butuh. Coba deh kamu daftar..". Nah, ini yang namanya silaturahmi mendatangkan rejeki.. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

Kalau ada temen-temen yang udah sukses yang bikin kelompok sendiri sesama orang sukses ya positif thinking saja, mungkin mereka sedang membicarakan kerjasama bisnis. Kan malah bagus kalau reuni bisa membuat usaha teman-teman kita semakin besar & lancar. Kalau penasaran dengan kabar mereka ya asal nimbrung saja lalu ngasih komentar positif saja, siapa tau ada pelajaran & motivasi yang didapat. Siapa tau ada inspirasi peluang bisnis dari obrolan itu.. ☺☺☺

Sekarang, benerin niatnya biar bisa tersenyum lebar saat bertemu teman-teman di ajang reuni.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š 

NB: Alhamdulillah sekarang aku bukan pengangguran, sekarang aku adalah pekerja kontrak yangg terancam jadi pengangguran saat kontrakku habis. Tapi, gak perlu minder kan.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Sumber: Posting FB Pribadiku